delikreportase.com

Copyright © delikreportase.com
All rights reserved
Desain by : Aditya

Walau Mengalami Kenaikan Harga Gas Masih Wajar

 

Anggota Komite BPH Migas Qoyum Tjandranegara mengatakan, pihaknya sangat mendukung langkah yang dilakukan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menaikkan harga gas.

“Kenaikan harga gas ke industri wajar, karena harga gas hilir yang dibeli oleh PGN dari produsen gas di hulu (ConocoPhilips) juga mengalami kenaikan,” katanya, Rabu (31/7)

Qoyum menjelaskan, harga gas di hulu naik sekitar US$ 1,8 per MMBtu dari semula US$3,8 per MMBtu menjadi US$ 5,6 per MMBtu. “Wajar harga gas di hilir naik, sebab harga di hulu sudah naik terlebih dahulu,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari website BPH Migas, biaya toll fee pipa SSWJ terhitung murah bila dibandingkan dengan pipa lainnya. Pipa SSWJ 2 yang mulai beroperasi sejak 2008membentang dari Grissik (Sumatera Selatan) sampai Muara Bekasi (Jawa Barat) sepanjang 629 km dengan biaya toll feesebesar US$1,47 USD/MSCF. Jika bandingkan dengan pipa milik Pertagas yang mulai beroperasi sejak 1974 membentang dari SKG Mundu (Jawa Barat) sampai Cilegon (Banten) yang hanya sepanjang 493 km dengan biaya toll fee-nya sebesar US$3,26 /MSCF.

Kepala Departemen Komunikasi Korporat PGN Ridha Ababil menjelaskan berkaca dari kasus kenaikan harga beli gas di Hulu beberapa waktu yang lalu, dimana harga beli gas naik 200% karena alasan keekonomian operasional lapangan, PGN akan menaikkan harga jual ke konsumen sebesar 50 %. Logikanya, tambah Ridha, bila keekonomian investasi dan operasional lapangan di hulu perlu diperbaiki, maka keekonomian hilir juga harus diperbaiki.

“PGN mengharapkan pihak terkait untuk bersama-sama PGN menata kembali bisnis yang sudah carut marut ini. Saat ini ada puluhan investor di sisi hulu sedangkan investor di sisi hilir gas sangat minim, banyak yang berjanji akan membangun pipa tapi sampai saat ini belum ada yang terealisasi,” kata Ridha.***(mt)