delikreportase.com

Copyright © delikreportase.com
All rights reserved
Desain by : Aditya

Candu Batu Cincin Buka Peluang Usaha Baru di Pelalawan

Para “penggila” akik ini, biasanya membawa senter atau handphone yang juga memiliki lampu senter. Senter dan lampu telepon genggam berfungsi untuk melihat kualitas batu memang dengan cara seperti itu. Bagi yang paham soal batu akik, cukup melihat warna atau bentuk, sudah tahu nama akik tersebut.

 

Okeline, Pelalawan - Ternyata penyuka batu akik do santero Nusantara ini terus menjamur. Para “penggila” akik ini, biasanya membawa senter atau handphone yang juga memiliki lampu senter. Senter dan lampu telepon genggam berfungsi untuk melihat kualitas batu memang dengan cara seperti itu. Bagi yang paham soal batu akik, cukup melihat warna atau bentuk, sudah tahu nama akik tersebut.

Namun banyak juga pemula batu akik ini ketipu karena belum faham jenis dan harga saja. Harga batu akik mulai dari Rp150 ribuan hingga Rp4 juta bahkan ada yang rausan juta. Pembelinya juga bukan hanya warga Pelalawan sekitarnya, tetapi ada yang datang dari luar daerah.

Pengasah batu di jalan Akisia, Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau, membenarkan bahwa masyarakat banyak yang menyukai batu akik. Bagi yang sekadar penyuka, kata pengerajin dadakan ini, mereka hanya menunggu diberi orang atau memburu di lahan-lahan yang diduga mengandung batu akik. :Kemudian mereka memotong dan menggosok sendiri, dengan peralatan sederhana,” jelasnya.

Untuk memoles sebuah bongkahan batu akik menjadi batu akik dalam ukuran kecil yang layak siap jual, peralatan sederhana. Untuk memotong, perlu pahat atau benda yang bisa memotong. Sedangkan untuk mengasah, biasanya terbuat dari roda sepeda yang diberi tali untuk menggerakkan gerinda. Roda digerakkan dengan tangan.

Harga batu akik terkadang tidak masuk akal. Yang murah memang banyak. Namun, yang harganya hingga ratusan juta juga tidak sedikit jumlahnya.

“Orang yang benar-benar menyukai batu akik, ia mau membeli dengan harga tinggi sekalipun. Sebuah batu akik saya, yakni bungur, pernah dibeli orang luar negeri seharga Rp400 juta,” ujarnya.

Memang bisnis batu akik tak selamanya cepat mengeruk keuntungan. Dalam bisnis akik, seperti orang mau melamar. Ada mahar. Kalau tertarik, berapapun harganya dibayar. Tetapi, bisa saja pemilik batu akik memberi cuma-Cuma kalau meyakini bahwa akiknya memang sudah jodoh kepada orang yang akan diberi.

“Batu akik milik saya ini sering dan tak sedikit member atau diminta orang yang datang. Saya pun sukacita memberinya kalau diminta. Tetapi, kalau merasa tak cocok, tamu itu mau membeli pun tidak saya jual,” kata pengrajin batu akik yang berasal dari Sumbar ini.

Hal itu juga diakui salah seorang pengerajin di Pasarbaru Pangkalan Kerinci. Disebutnya tamu yang datang ke rumahnya untuk memburu batu akik, tak jarang dari kalangan pejabat, pengusaha, dan legislatif. Umumnya, kata dia, mereka memang mau membeli. “Tetapi, saya juga tetap menyilakan mereka mengambil akik yang saya sediakan di piring,” katanya.

Jadi, bisa saja sebuah batu akik berharga tinggi, namun pembeli bisa mendapatkan beberapa akik yang belum diikat dengan cincin. “Bisnis cincin ini bukan seperti bisnis barang lainnya, di sini perkawanan lebih diutamakan,” jelasnya.

Sejak booming batu akik, di Pelalawan kini makin menjamur tukang potong dan pengasah. Selain itu, ada yang menggeluti penggalian batu. Sedangkan ujar salah seorang pengerajin Hasan, lebih banyak hanya mempekerjakan orang: dari penggali, pemotong, hingga mengasah batu akik.

Setelah terkumpul banyak, ia pun membeli emban—biasanya di Jakarta—terbuat dari perak. Untuk mengikat batu akik pun, ia juga mengupah orang.

Setelah itu, cicncin-cincin yang sudah ada batu akik dari berbagai jenis dan nama, ia masukkan ke dalam kotak. Kemudian ia bungkus dengan lakban. Kotaj-kotak ini siap dipasarkan: baik di dalam provinsi, maupun luar bahkan hingga mancanegara.

“Bisnis batu akik ini benar-benar menjanjikan,” katanya lagi, apalagi bagi pembeli pemula harga 100 Ribu bisa dijual 1 Juta.(ajo)

BERITA TERKAIT