Dua organisasi Geruduk Kantor DPRD dan Gubernur Riau
Bencana asap yang menyelimuti bumi lancang kuning telah berlangsung kurang lebih 18 tahun lamanya. Namun, pemerintah daerah dan DPRD Provinsi Riau dalam penanggulangan bencana asap ini tidak meresponnya dengan serius, sehingga terkesan bahwa, ‘ini bukanlah bencana tetapi rencana’.
KABARRIAU.COM, Pekanbaru - Sebanyak dua kelompok pengunjuk rasa mendatangi kantor DPRD Riau, dalam waktu yang bersamaan, pada Senin (21/9/2015), di antaranya, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lancang Kuning (Unilak), kemudian gabungan organisasi Aliansi Rakyat untuk Reforma Agraria (ARRRA) SPI, Walhi, GMPKS, dan JMGR.
Tepat pukul 11.39 Wib, mahasiswa ditemui oleh beberapa anggota dewan. Tampak hadir menemui mahasiswa, Masnur, Nopiwalidjusman, Ade agus Hartanto, Mansyur, Yusuf sikumbang, dan Erizal muluk.
Kehadiran dua organisasi tersebut hanya berselang waktu dua menit. Diawali dengan kehadiran puluhan mahasiswa dari BEM Unilak, yang datang sekitar pukul 11.00 WIB. Disusul kemudian salah satu organisasi lagi beberapa menit kemudian. Kemudian BEM Unilak diberikan kesempatan terlebih dulu menyampaikan aspirasinya, sedangkan pihak ARRRA mengantre dulu menunggu BEM Unilak Selesai.
Dalam aksinya, para mahasiswa dari Unilak dalam orasinya memyebutkan bahwa bencana asap yang menyelimuti bumi lancang kuning telah berlangsung kurang lebih 18 tahun lamanya. Namun, pemerintah daerah dan DPRD Provinsi Riau dalam penanggulangan bencana asap ini tidak meresponnya dengan serius, sehingga terkesan bahwa, ini bukanlah bencana tetapi rencana,"teriak yang mengatas namakan mahasiswa yang mengaku dari Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM) Mahasiswa Universitas Lancang Kuning Rumbai Pekanbaru, Senin,(21/09) di Jln: Cutnyadien kota pekanbaru.
Sementara itu, dalam rangka menyambut hari tani nasional 2015, sejumlah organisasi masyarakat sipil yang menamakan dirinya aliansi rakyat untuk reforma agraria (ARRRA) menyampaikan, banyak lahan para petani yang dirampas oleh perusahaan-perusahaan yang ingin membangun industri di lahan masyarakat.
"Lahan untuk petani jelas menghasilkan pangan, sedangkan lahan untuk investasi hanya menghasilkan asap dan bencana ekologi. Kalau negara tidak bisa memberikan perlindungan kepada petani dan sumberdaya agrarianya, maka cita-cita kedaulatan pangan nasional hanya menjadi mimpi yang tidak akan terwujud," kata kordinator aksi, Taufik Rahman dalam orasinya.
Wakil DPRD Riau, Noviwaldy Jusman yang ikut menyambut mereka mengatakan, pihaknya akan berupaya mencarikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat tersebut. Dalam kesempatan itu, Noviwaldy juga sempat bercanda dengan pendemo, saat pendemo menyerahkan hasil tani mereka, dan minta dewan membeli hasil perkebunan berupa ubi kayu tersebut.
"Ini kan oleh-oleh. Kalau oleh-oleh masa dibeli juga," ujar Dedet mengambil ubi tersebut. Dan para pendemo pun tertawa dengan candaan Dedet.
Aksi demo tersebut di pimpin Randi selaku kordinator umum dan di dampingi Nirwansyah sebagai sekretaris dari Universitas Islam Riau ( UIR ) Pekanbaru.
Adapun pernyataan sikap yang di sampaikan para pendemo secara tertulis adalah:
- Tidak ada anggota DPRD Provinsi Riau yang menjadi pelindung dan melindungi perusahaan HTI.
- DPRD Provinsi Riau harus membentuk tim pansus penanganan asap di Riau.
- Anggota DPRD Provinsi Riau tidak boleh meninggalkan Provinsi Riau selama bencana asap belum selesai.
- Kontribusi nyata DPRD Provinsi Riau terhadap penanggulangan bencana asap di Riau dalam bentuk turut serta dalam menyuarakan aspirasi rakyat Riau terkait bencana asap di Riau ke pemerintahan pusat.
Di sela - sela aksi demo tersebut terlihat seekor kambing yang lehernya di ikat dengan tali di giring oleh para pendemo, serta di tubuh kambing itu di pampangkan photo Presiden RI, photo Plt.Gubri dan photo Kemenkes RI.
Dengan semangat kebersamaan para mahasiswa, mereka juga menyampaikan aspirasinya memberikan tuntutan untuk Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo segera mengambil sikap untuk memecat menteri kesehatan RI dan mencabut izin perusahaan HTI yang melakukan karhutla.
Setelah puas melakukan orasi para mahasiswa Lancang Kuning (unilak) membubarkan diri menuju halaman kantor Gubernur Riau, untuk bergabung dengan sejumlah elemen mahasiswa lainya. Mereka membagi-bagikan selebaran kertas dengan pernyataan sikap yang di tanda tangani oleh Ali Akbar Siregar selaku Presiden Mahasiswa Unilak Pekanbaru.
Liputan : AO.Nababan/R.Siburian.
Kategori: Nasional/Lingkungan.

