Awal Tahun Kasus DBD Pelalawan Tinggi
PELALAWAN [Metroterkini.com] - Baru Awal tahun 2011, kasus penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Pelalawan sudah mencapai sembilan (9) kasus. Meski tak menimbulkan korban jiwa namun tingginya penderita DBD di awal tahun ini cukup mengkhawatirkan.
Demikian hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kabupaten Pelalawan Agus Subagja SKM melalui Kasie P2PL Diskes Pelalawan, Sri Wahyuni SKM, pada wartawan di Pangkalan Kerinci, Senin (31/1).
"Biasanya, pada bulan Januari mulai berkembang penyakit DBD dan mencapai puncaknya di bulan Maret. Tapi sekarang karena kondisi cuaca yag tak menentu, di bulan Januari ini saja sudah ada sembilan kasus yang kami tangani," katanya.
Sri menerangkan bahwa sembilan kasus DBD yang masuk laporannya ke Diskes Pelalawan saat ini di Langgam terjadi satu kasus, di Pangkalan Kerinci empat kasus dan di Bandar Seikijang juga empat kasus. Dari ketiga lokasi yang telah terjangkit DBD tadi, pihaknya sudah menindalanjuti dengan melakukan fogging (pengasapan) di daerah tersebut.
"Kita sudah lakukan fogging di tiga lokasi yang terjangkit DBD itu," ujarnya.
Dalam melakukan fogging, sambungnya, pihaknya tak sembarang melakukannya melainkan harus ada prosedur yang dilewwati. Artinya, tidak lanng lokasi tersebut langsung difogging jika baru ada indikasi DBD saja.
"Kita baru bisa melakukan fogging di lokasi yang dinyatakan terkena DBD jika sudah ada keterangan dari rumah sakit yang menangani pasien tersebut," bebernya.
Saat disinggung soal satu keluarga di Jalan Pelita yang terkena kasus DBD, Sri menjelaskan justru pihaknya tak mendapat laporan mengenai hal ini. Karena itu, pihaknya tak melakukan fogging di lokasi yang disebutkan tadi.
"Tapi yang harus dipahami adalah bahwa fogging bukanlah untuk memusnahkan jentik-jentik nyamuk melainkan hanya memutuskan mata rantai penyebaran nyamuk DBD," ujarnya.
Soalnya, lanjutnya, yang terpenting dari pencegahan DBD itu adalah peran serta masyarakat dalam membersihkan lingkungan di wilayahnya masing-masing. Pasalnya, jika fogging dilakukan namun masyarakat tak goro bersama maka dalam jangka waktu dua atau tiga bulan jentik-jentik nyamuk DBD itu akan kembali menyebar.
"Jadi yang harus difokuskan pada msyarakat yakni Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan goro bersama dengan melakukan 3M yaitu Menutup, Menguras dan Mengubur," ungkapnya.
Dikatakannya, bahwa saat ini penyebaran jentik-jentik nyamuk DBD bukan hanya di halaman yag tergenang air saja. Namun dalam beberapa kasus di Pangkalan Kerinci jentik-jentik nyamuk mengumpul di genangan air di dispenser.
"Saat ini, kami temukan beberapa kasus jentik-jentik nyamuk menggenangi air dispenser," katanya.
Ditambahkannya, pihaknya mengharapkan dalam pemberantasan sarang nyamuk DBD masyarakat harus ikut terlibat aktif dalam memeranginya. Pasalnya, untuk memusnahkan jentik-jentik nyamuk DBD harus dimulai dari lingkungannya masing-masing.***/mtc/ny

