Sejumlah 50 Orang Eks Gafatar Dibina di Rusunawa
Dari 50 orang eks Gafatar yang bersedia pulang, 40 di antaranya merupakan warga Pekanbaru, 7 orang warga Kampar, dua warga Indragiri Hulu, dan 1 warga Kota Dumai. Sisanya anak-anak sebanyak 18 orang.
KABARRIAU.COM, PEKANBARU - Hari Senin (8/2/2016) sore, sekitar pukul 15.15 WIB, rombongan eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Provinsi Riau akhirnya mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dengan pesawat Batik Air. Sebagian menutup wajahnya saat berjalan menuju bus dinas sosial.
Sambil menenteng barang bawaan, mereka berusaha menghindari banyaknya awak media yang menunggu untuk melakukan wawancara. Sejumlah 50 orang Eks Gafatar itu kemudian diangkut dengan dua bus menuju Rumah Susun Sewa (Rusunawa), belakang gedung DPRD Riau, selanjutnya mereka diinapkan sementara selama tiga hari.
"Melalui dialog yang alot, akhirnya mereka mau juga dipulangkan. Ada 50 orang yang pulang, masih ada sekitar empat orang lagi tidak mau pulang," ujar Kepala Dinas Sosial Provinsi Riau Syarifudin AR.
Dari 50 orang eks Gafatar yang bersedia dipulangkan itu, 40 di antaranya merupakan warga Pekanbaru, 7 orang warga Kampar, dua warga Indragiri Hulu, dan 1 warga Kota Dumai. Sisanya anak-anak, sebanyak 18 orang.
Perlu waktu bagi Dinsos Riau untuk memulangkan eks Gafatar, yang terusir dari Kalimantan Barat. Syarifudin AR mengungkapkan, semula terdata 135 orang eks Gafatar asal Riau yang dievakuasi dari Kalbar ke Jakarta. Beberapa orang diantaranya dijemput kerabat dan sebagian menolak untuk dipulangkan.
"Itulah, mereka tidak mau pulang. Alasannya seperti yang sudah sering saya sampaikan, karena harta benda yang sudah habis terjual, tidak punya saudara, sampai khawatir tidak diterima lagi di masyarakat," papar Syarifudin.
Terakhir tersisa 54 eks Gafatar di penampungan Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) Kementerian Sosial, Jakarta. Dari jumlah itu, 50 orang setuju dipulangkan. Empat lainnya menolak, termasuk seseorang yang bernama Diego Maradona. “Ia masih bertahan di Jakarta,” kata Syarifudin.
Selama tiga hari diinapkan di Rusunawa para eks Gafatar akan dibina, terutama menyiapkan mental mereka kembali bergabung dengan masyarakat. Setelah itu dipulangkan ke kabupaten dan kota asalnya.
Saat disinggung apa jaminan sosial yang akan diberikan pemerintah terhadap warga eks Gafatar ini, Syarifudin mengatakan mereka tidak akan terlantar setelah pulang ke Riau.
Sudah Bubar
Satu di antara 50 eks Gafatar yang tiba di Pekanbaru, kemarin, Sukino Hasbi mengatakan mereka tidak mengamalkan ajaran Islam seperti Islam kebanyakan. Kendati demikian, ia menolak Gafatar disebut ajaran agama. Kata dia, Gafatar merupakan organisasi sosial yang tidak ada kaitannya dengan agama.
Dengan bersemangat ia berbicara panjang lebar kepada wartawan sesaat setelah tiba di aula Rusunawa. "Kalau katanya kami bukan Islam kebanyakan, memang demikian. Karena kami bukan Islam kebanyakan. Kami hanya mengabdi pada satu Tuhan,” ucapnya.
“Kalau masalah salat, di luar (Muslim) banyak yang tidak salat. Gafatar itu organisasi sosial. Ada Kristen, Hindu, Budha. Di sana tidak bedakan agama," imbuhnya.
Ketika ditanya apa bedanya dengan agama Islam, ia lantas menjawab dengan tegas, berbeda. "Kami bukan keluar dari agama Islam, tapi keluar dari paham Islam mainstream. Kita tetap berpedoman pada apa yang diturunkan Tuhan Semesta Alam," lanjutnya.
Ia lantas memisahkan pemahaman agama tersebut dengan Gafatar yang diikutinya, hingga membawanya ke Kalimantan Barat. Kata dia, Gafatar telah lama bubar. Pengakuannya, organisasi ini bubar Agustus 2013, dan keberangkatan mereka ke Kalimantan dilakukan setelah Gafatar bubar.
"Kami ke Kalbar bukan karena Gafatar. (Gafatar) Bubar 2013, Agustus. Jadi keberangkatan kami bukan karena Gafatar. Kami membangun petani mandiri. Karena kami miris melihat pertanian khususnya di sini, Pekanbaru. Banyak impor. Oleh karena itu kami ingin mandiri. Kami tidak merepotkan pemerintah," ulasnya.
Terhadap fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah menetapkan Gafatar sesat dan menyesatkan, Sukino yang mengaku sebagai pimpinan eks Gafatar yang dipulangkan kemarin, tidak ambil pusing. “Itu terserah MUI-lah. Namun karena desakan media, orang-orang memandang kami sudah miring," ujarnya.
Ia menuntut pemerintah memberikan kompensasi atas pemulangan mereka ke Pekanbaru. Menurutnya, sebelum dipulangkan, mereka menandatangani kesepakatan yang isinya pemerintah akan mengganti rugi atau memberi kompensasi atas seluruh harta benda yang mereka tinggalkan di Kalbar.
Ia tidak rela jika harta benda dan aset yang dimilikinya di Kalbar hilang begitu saja, karena harus kembali ke Pekanbaru.
"Lahan lumayan banyak ada 19 hektare. Dengan begitu banyak dana yang kami kumpulkan untuk membelinya, saya tidak menerima dipulangkan. Aset kami banyak di sana. Tanah, motor, mobil, ada yang rumah. Sebelum pulang kami buat surat kesepakatan. Kami merasa dirugikan," ujarnya.
Sukino mengaku meninggalkan pekerjaan asalnya yang mampu memberinya gaji hingga Rp 40 juta selama dua minggu. Ia mengaku bekerja di lembaga survei, dan menetap di Medan, sebelum pindah ke Pekanbaru menjalankan satu survei, sekaligus persiapan ke Kalbar.
Dengan mengumpulkan modal besar, ia dan rekan-rekannya yang berangkat ke Kalbar dan membeli aset minta agar pemerintah bertanggung jawab atas aset yang mereka tinggalkan di pulau tersebut.
"Harapan kami pemerintah bisa memahami kami. Terkait aset, bisa memberikan fasilitas kepada teman-teman kami. Mereka sama seperti saya, jual aset, lepas pekerjaan demi menjadi petani mandiri," tuntutnya. (*)
Liputan : Red.
Kategori : Sosial.

