delikreportase.com

Copyright © delikreportase.com
All rights reserved
Desain by : Aditya

Bom Rakitan di Temukan Di NTB, di Siapkan Untuk Bom Bunuh Diri

Bom rakitan yang ditemukan tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri di Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), ternyata disiapkan untuk bom bunuh diri. Rencananya, bom digunakan untuk meledakkan hotel dan tempat hiburan di Bima.

"Dari hasil pemeriksaan tim kita, (bom) di NTB masuk katagori yang bisa digunakan untuk bom bunuh diri," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (10/1).

Bom-bom rakitan dengan berat total 40-50 kilogram itu ditemukan dalam penggeledahan di sebuah pondokan di kebun kacang, Dompu, 5 Januari lalu. Lokasi tersebut ditengarai sebagai tempat merakit bom kelompok teroris.

Sebelum penggeledahan, Densus 88 menembak mati lima terduga teroris di Dompu. Tiga di antaranya ditembak saat baru turun dari kebun. Menurut Boy, penembakan dilakukan karena mereka juga bersenjata dan menguasai bahan peledak di lokasi itu.

Menurut Boy, kelompok Dompu masih satu jaringan dengan kelompok Makassar dan Enrekang, Sulawesi Selatan, yang ditangkap dalam waktu berdekatan. 4-5 Januari lalu. Dua orang ditembak mati dalam penangkapan di Makassar, sementara empat orang ditangkap hidup dalam penangkapan di Enrekang.

Dalam penggeledahan di sejumlah tempat di Enrekang, kemarin, Densus 88 menemukan 23 bom rakitan yang sebagian besar aktif. Bom disembunyikan di kebun dan penggilingan kopi serta rumah terduga teroris.

Berdasarkan pemeriksaan terhadap mereka yang masih hidup tersangka yang masih hidup, belum terungkap siapa yang dipersiapkan untuk menjadi pelaku bom maupun bom bunuh diri. Tapi Boy menyakini mereka orang-orang yang disiapkan untuk aksi teror.

"Sangat dimungkinkan orang-orang itu sudah dipersiapkan oleh mereka. Cuma di antara mereka belum terungkap siapa yang disiapkan untuk pelaku bunuh diri," kata Boy.

Kepolisian menyatakan kelompok ini berada langsung di bawah buronan teroris, Santoso. Mereka berpindah dari Poso, Sulawesi Tengah, ke NTB dan Sulawesi Selatan. Kelompok ini dinyatakan terlibat kasus pelemparan bom kepada Guberbur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo di Makassar, beberapa bulan silam.(M /KR)