delikreportase.com

Copyright © delikreportase.com
All rights reserved
Desain by : Aditya

Rehabilitasi Jalan Dalam Kota Pangkalan Kerinci Asal Jadi

 

Rehabilitasi atau pemeliharaan berkala jalan dalam kota Pangkalan kerinci, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, amburadul, pekerjaannya tidak sesuai dengan standar pengaspalan, hal ini terlihat  kontraktornya ambil untung besar, sehingga mutu pengaspalan ini diabaikan, akibatnya masyarakatlah  yang dirugikan karena tidak bisa menikmati jalan ini dengan seutuhnya.

Salah satu contoh pembangunan jalan Engku Lela Putra, yang pekerjanya, sewaktu Freem atau menyiram asapal curah seharusnya lokasi yang akan di tingkatkan seharusnya memakai kompresor namun dilapangan ditemukan pekerjnya hanya memaki sapu lidi sehinga tempat yang akan di hotmik tidak sesuai standar pengaspalan.

"Contonya jalan yang dikerjakan tahun lalu dilokasi yang sama, saat ini sudah hansur, sementara orang yang bertanggung jawab terhadap hal ini tidak tahu, padahal jalan ini ada yang bergelombang dan ada yang sudah tak layak lagi di pakai, seperti kubangan Kerbau," Ujar salah seorang warga Daulat, Senin (14/10/13).

Kalau dilihat kasat mata Pekerjaan ini teresan tergesa - gesa, dan yang lebih anehnya paket pengaspalan diseluruh Pelalawan hanya dikerjakan oleh cuma satu Kontraktor saja, yaitu PT. Ptra Wika, apalagi ketebalan aspal ini dicurigai kurang dari standar yang ada di dalam besteknya.

"Kalau tak percaya coba saja diukur ulang, yang anehnya kok yang mengerjakan pengaspalan di Kabupaten Pelalawan ini hanya PT. Pitra Wika saja, sementara kontaktor lainya kok seperti tidak berkwalitas," Ujarnya.

Bukan itu saja selama pengaspalan belangsung seharusnya Pengawas dar Dinas PU dan konsultan pengawas harus berada dilokasi itu untuk mengawasi pekerjaan kontraktor, Sementara dilokasi itu hanya ditemukan pegawai yang mengaku dari Dinas PU yang tampa dilengkapi indentitas yang jelas, padahal pekerjaannya sudah berjalan 200 meter.

"Ini sangat mencurigakan pekerjaan sebesar itu tidak diawasi oleh PU dan Konsultan Pengawas, ketika di ukur (coor) tidak seorangpun ada dilokasi itu," Ujarnya.

Selain itu pengukuran panas Hotmik tidak dilakukan orang PU yang terlibat dilokasi itu, sebab panas atau kwalitas Aspal hotmix harus sesuai standar, kalau tidak sesuai dengan standar ini maka aspal tersebut akan cepat terkelupas, sehingga jalan ini tidak bisa lama dinikmati masyarakat.

"Pekerjaan ini kalau diteruskan akan berakibat Fatal, dimana uang APBD Pelalawan terbuang percuma, juga masyarakat tidak akan lama menikmati aspal ini" Ujar melanjutkan.

Pekerjaannya pelebaran, rekontruksi, patching, operlay, beton, ini seperti tidak berjalan, pekerjaan dengan no kontrak 620/D.PU/ BM - KTR/ 2013/ 37 tanggal 17 mei 2013/ dengan kontrak senilai RP. 7.338.170.000, Yang dilaksanakan oleh PT. Pitra Wika, dengan sumber dana APBD Pelalawaan 2013/ sangat tidak masuk akal apalagi apa perusahaan Konsultan pengawasnya tidak pernah ada.

"Saya minta aparat hukum bisa meninjau dan mengusut hal ini agar masyarakat tidak dirugikan," Ujarnya.

Sampai berita_oke ini diturunkan Pihak Dinas PU belum dapat di konfirmasi. (RM)