delikreportase.com

Copyright © delikreportase.com
All rights reserved
Desain by : Aditya

Zulher: Kenaf Menjadi Harapan Pekebun

Pekanbaru - Setelah melewati masa yang cukup panjang, akhirnya program pilot project Dinas Perkebunan Provinsi Riau pengembangan tanaman kenaf sebagai tanaman sela bagi subsektor perkebunan menampakkan hasil. Hasil yang menggembirakan dirasakan oleh para petani yang berada di Desa Bangun Sari Kabupaten Kampar yang merupakan desa pertama yang melaksanakan pemanenan perdana program tersebut.

Pemanenan Perdana ini langsung dilakukan oleh Gubernur Riau yang diwakili oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Drs H Zulher MS pada minggu (6/4) di Desa Bangun Sari, Kampar. Hadir pada kesempatan tersebut pejabat Eselon 3 dan 4 lingkup Disbun Riau, Ketua Asosiasi Petani Kenaf Indonesia (APKI) Hoesin Noer, Pimpinan PT. Global Agrotek Nusantara Bambang, perwakilan dari berbagai KUD/Koptankar, Koramil Kampar Kiri Hilir, perwakilan Camat Kampar Kiri Tengah, dan undangan lainnya.

Setelah melihat secara langsung beberapa kebun kenaf milik petani sebelum melaksanakan pemanenan perdana, Zulher semakin yakin bahwa Kenaf bisa menjadi primadona baru bagi para pekebun.

"Kita sebenarnya telah terlambat, Kenaf telah lama dikembangkan di Malaysia, karena mereka sangat yakin bahwa kenaf dapat menjadi primadona utama dalam perdagangan internasional nantinya," ujar Zulher.

Seluruh unsur tanaman Kenaf katanya, dapat dijadikan duit. Mulai dari batang, kulit sebagai produk utama, daun hingga akarnya. Kulit kenaf dapat dijadikan Dashboard mobil, tali, pita, bahan tekstil. Batangnya dapat dijadikan bahan asbes, gypsum, panel, batu bata, air rendaman kulit dapat dijadikan pakan ikan, dan daun dijadikan pakan ternak, hingga akar nya akan menjadi humus penghasil nitrogen karena kenaf dikenal sebagai tanaman yang dapat mengikat Nitrogen yang lebih kuat dari tanaman lainnya.

"Tidak akan rugi kalau kenaf ini kita kembangkan. Dan kita menargetkan dari 300 hektar pilot project akan terus berkembang dan kita harapkan seluruh pekebun yang melaksanakan peremajaan akan menjadikan kenaf sebagai tanaman selanya," ujar Zulher.

Ketua APKI, Hoesin Noer, yang datang langsung dari Malang, Jawa timur, terkejut dengan perkembangan kenaf di Riau. Menurutnya, Kenaf di Riau yang telah dilihatnya jauh lebih bagus dari tanaman kenaf di Malang. Apalagi menurut informasi dari petani di Desa Bangun Sari mengatakan bahwa Kenaf mereka telah dilanda banjir pada awal penanaman, namun setelah banjir Kenaf tersebut tumbuh kembali bahkan lebih subur. 

"Kami selama ini menggantungkan usaha ekonomi keluarga dari Kenaf, dengan perkembangan Kenaf yang kami lihat langsung disini, maka kami yakin Kenaf di Riau akan jauh lebih bagus dari Malang," ucap kagum Husin.

Hingga berita_oke ini diturunkan proses pemanenan masih dilakukan. Namun menurut Perwakilan PT Global Agrotek Nusantara wilayah Sumatra sebagai penampung hasil kenaf nantinya, Tengku Subhan, hasil kenaf petani di desa Bangun Sari tidak akan kurang dari 2 ton per hektar. Dengan harga yang mereka tawarkan kepada petani sebesar Rp. 5.000/kg maka per hektarnya petani akan mendapat omzet Rp 10 juta. 

"Setidaknya petani akan mendapat keuntungan bersih sekitar Rp 6,5 juta per hektar nantinya," ujar Subhan.

Kepala Desa Bangun Sari, M. Nurzuhud, sangat berterimakasih kepada Bapak Zulher selaku Kadisbun Riau karena telah memberi solusi kepada petani. Hingga program peremejaan kebun karet dan sawit yang selama ini terhambat dapat dilakukan kembali. 

"Apalagi dengan adanya kenaf ini maka ekonomi pekebun akan terus terjaga selama kebun karet dan sawit tersebut belum dapat menghasilkan," ucap syukur Nurzuhud.[ndn/rls]