delikreportase.com

Copyright © delikreportase.com
All rights reserved
Desain by : Aditya

Inilah Faktor Penyebab Tiga Perubahaan Harga TBS Riau

Kabar Perkebunan - Kekhawatiran harga TBS akan terus terjun bebas akhirnya tidak terbukti. Dan penurunan harga tersebut pada umumnya diakibatkan oleh tiga faktor yaitu arus permintaan/penawaran perdagangan CPO, penyesuaian biaya produksi, kebijakan perdagangan negara produsen dan konsumen.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Drs H Zulher MS, di kantornya, Kamis (8/5). Dari data yang telah dihimpun pada rapat harga TBS terakhir, Selasa (6/5) menyatakan harga TBS umur 10 tahun keatas naik menjadi Rp. 1.964,23/kg. Harga TBS tersebut telah naik dari selasa (29/4) sebelumnya sebesar Rp Rp. 1.959,55/kg dan juga naik dari rapat selasa (22/4), dua minggu sebelumnya  yaitu Rp. 1.926,23/kg.

Arus permintaan dan penawaran terus berubah seiring dengan pasokan pengekspor dan ketersediaan produk CPO bagi negara pengimpor. Apalagi kebijakan permintaan dari Negara pengimpor CPO akan mempertimbangkan berbagai issue yang berkembang di pasar global. CPO sebagai industri yang berbasiskan lingkungan maka issue tersebut selalu menjadi sorotan. Namun seiring waktu, issue lingkungan telah ditepis oleh Negara produsen CPO seperti Indonesia dan Malaysia.

Berbagai standar industri seperti Roundtable Suistainable Palm Oil (RSPO) dan khusus di Indonesia telah adanya Indonesian Suistainable Palm Oil (ISPO) telah menjadi bukti komitmen Negara produsen menciptakan industri berbasikan pro lingkungan. 

"Apalagi sekarang ini, baik Negara produsen dan konsumen telah melihat kelebihan  produk turunan kelapa sawit ini dibandingkan dengan produk sejenisnya. Sehingga mereka yang selama ini masih memakai minyak bunga biji matahari, kedelai, atau sejenisnya berangsur merubah arah kebijakan perdagangannya," terang Zulher.

Untuk itu, kata Zulher diperkirakan ke depannya arus perdagangan internasional akan meletakkan CPO sebagai main product dalam perdagangan produk nabati. 

Sedangkan pengaruh biaya produksi terhadap harga TBS dapat diketahui jika perubahan harganya dibawah Rp 10/kg. Perubahan biaya tersebut diakibatkan oleh adanya beberapa variabel yang berubah seperti biaya pemasaran, transportasi (angkut), olah, dan penyusutan. 

"untuk variabel biaya produksi tersebut untuk masing-masing perusahaan tidak sama," ujar Zulher.

Sedangkan untuk kebijakan perdagangan Negara produsen dan konsumen itu pada umumnya menyangkut kepada sektor perpajakan, pajak masuk dan keluar produk dari negaranya. 

"Penurunan harga TBS pada awal tahun ini diakibatkan oleh kebijakan Bea Keluar kita yang dinaikkan sebesar 3% dari yang sebelumnya 10,5% menjadi 13,5%. Dan itu mengakibatkan pada periode Maret-April harga TBS turun," tambah mantan Sekda Kampar ini.

Untuk itu kata Zulher, pelaku usaha perkebunan jangan mengkhawatirkan jika terjadi fluktuasi harga TBS. Perlu juga diwaspadai jika penurunan  terus tajam hingga menyentuh level Rp 1.000/kg. Namun begitu, pada saat sekarang ini penurunan yang tajam tersebut dapat diketahui. 

"Jadi kalau harga TBS itu terus berubah tiap minggunya, maka itu adalah hal yang wajar. Itu akibat konsep permintaan dan penawaran dalam perdagangan. Yang terpenting penurunannya jangan semakin curam dan berada pada posisi terendah," terang Zulher.(MT)