Lagi - lagi Pemkab Bengkalis Sosialisasikan Hambat Karhutla
Kabar Karhutla - Dalam kegiatan sosialisasi pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang ditaja Pemprov Riau di lantai IV Kantor Bupati Bengkalis, Jumat (9/5), diperkirakan musim kering atau kemarau ekstrim akan terjadi antara bulan Juni hingga Agustus 2014 mendatang.
Demikian disampaikan Bupati Bengkalis, H. Herliyan Saleh saat membuka sosialisasi pengendalian Karhutla tersebut.
Hadir pada kesempatan itu, Perwakilan dari Badan Meteorologi, Klimatogi, dan Geofisika (BMKG) Riau, Sugiman, dan Letkol Inf TS Toni Manopo dari Korem 031 Wira Bima, Kombes Sugiono SH, M Hum (Polda Riau), dan Ansari SH, MH dari Kejati Riau, serta Kadis Kesehatan Provinsi Riau, Zainal Arifin.
Pada kesempatan itu, Bupati Herliyan turut mengajak seluruh Kepala Dinas, Bagian dan Badan dilingkup Pemkab serta seluruh camat, lurah dan kepala desa untuk mengantisipasi sedini mungkin Karhutla, dan tak henti-hentinya mengingatkan serta memberikan himbauan kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan saat membuka lahan.
"Pemkab Bengkalis saat ini gencar melakukan sosialisasi ke seluruh kecamatan terhadap bahaya Karhutla, dan tentunya kita sangat apresiasi atas pelaksanaan kegiatan sosialisasi pengendalian Karhula yang ditaja Pemprov Riau. Saya menilai kegiatan ini sebagai langkah mitigasi terjadinya bencana Karhutla di Kabupaten Bengkalis, dan Provinsi Riau," kata Bupati Herliyan.
Menurutnya, dari laporan sementara BMKG Provinsi Riau, pada bulan Juni hingga Agutus 2014 akan terjadi musim kering atau kemarau ekstrim. Tentunya diharapkan kesiapan dan upaya mitigasi dan pencegahan Karhutla.
Musibah Karhula, sambung Herliyan, hampir setiap tahun terjadi di Kabupaten Bengkalis dan Provinsi Riau pada umumnya, terutama pada saat musim kemarau. Peristiwa ini merupakan isu lingkungan strategis yang perlu dilakukan pencegahan dan pengendaliannya. Tahun ini, tepatnya dari bulan januari hingga maret, luas lahan yang terbakar di kabupaten bengkalis mencapai 10.144,1 hektar.
Beberapa dampak negatif yang timbul akibat Karhutla ini, sambungya lagi, khusus pada lahan gambut cukup besar misalnya kerusakan ekologis, menurunnya nilaiestetika, berkurangnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah, menurunkan keanekaragaman hayati dan ekosistem. Kemudian, asap yang ditimbulkan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan masyarakat, sektortransportasi, sektor pendidikan dan melumpuhkan roda perekonomian.
Asap yang ditimbulkan dapat melintas batas negara dan menjadi masalah serius ditingkat regional maupun Internasional. Sejauh ini, untuk mencegah musibah kebakaran hutan dan lahan, pemerintah gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat, tentang ancaman hukuman maupun himbauan agar tidak membuka dan membersihkan lahan dengan cara membakar.
"Pemkab Bengkalis juga telah membentuk regu pemadam kebakaran dari personil tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa yang mencapai 216 orang dengan didukung peralatan pemadam. Pada prinsipnya pemerintah kabupaten bengkalis berupaya melakukan berbagai kegiatan serta menggerakan seluruh stakeholder mulai kabupaten sampai desa untuk upaya pencegahan terjadinya karhutla. Misalnya melakukan rapat koordinasi hingga tingkat RT/RW yang secara langsung saya pimpin termasuk pembentukan masyarakat peduli api (mpa)," terangnya. [rdi]

