delikreportase.com

Copyright © delikreportase.com
All rights reserved
Desain by : Aditya

Inflasi Riau 0,58 Persen Lebihi Nasional, Gejolak Kenaikan Harga

Inflasi tahun kalender, atau Juni 2014 terhadap Desember 2013, mencapai sebesar 1,87 persen. Sedangkan, laju inflasi tahunan atau "year on year/yoy" sebesar 6,60 persen.

 

Pekanbaru (KR) - Provinsi Riau pada Juni 2014 mengalami inflasi sebesar 0,58 persen, melampaui tingkat nasional yang terdata sebesar 0,43 persen.

"Inflasi daerah kita 0,58 persen lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional yang terdata 0,43 persen. Ini berarti gejolak kenaikan harga di daerah ini lebih greget, lebih panas," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Mawardi Arsad, di Pekanbaru, Selasa (1/7).

Ia mengatakan laju inflasi tahun kalender, atau Juni 2014 terhadap Desember 2013, mencapai sebesar 1,87 persen. Sedangkan, laju inflasi tahunan atau "year on year/yoy" sebesar 6,60 persen.

Inflasi Riau merupakan gabungan dari tiga kota besar, yakni Kota Pekanbaru, Dumai dan Tembilahan (Kabupaten Indragiri Hilir). Ia mengatakan, ketiganya mengalami inflasi dengan inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan sebesar 0,81 persen, diikuti oleh Dumai (0,66 persen), dan Pekanbaru (0,54 persen).

"Tiga kota semuanya inflasi, dan untuk inflasi di Tembilahan terutama, merupakan nomor dua tertinggi secara nasional," kata Mawardi Arsad.

Mawardi menjelaskan, inflasi Riau bulan Juni terjadi karena adanya peningkatan indeks harga pada seluruh kelompok pengeluaran, dengan inflasi tertinggi pada kelompok bahan makanan sebesar 1,54 persen.

"Penyebabnya adalah kenaikan harga bahan makanan, karena Riau sangat bergantung pada daerah lain untuk bahan makanan seperti beras, jadi sebagai konsumen murni," katanya.

Ia memperkirakan inflasi Riau kemungkinan akan terus meningkat pada pekan awal bulan puasa Ramadhan, yang akan berpengaruh pada tingkat inflasi pada bulan Juli.

"Padahal pada Juni belum masuk puasa, namun sudah menunjukkan angka kenaikan yang mencolok," ujarnya.

Menurut dia, inflasi juga disebabkan kenaikan indeks kelompok kesehatan sebesar 0,49 persen, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,43 persen, kelompok sandang 0,29 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,24 persen.

Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,22 persen, serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,15 persen.

Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi di Riau antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, jengkol, tomat sayur, petai, ayam hidup, pepaya, tarif listrik, jeruk, bedak, rokok kretek filter, kentang, ketimun, angkutan udara, dan lain sebagainya.

Dari 23 kota di Sumatera yang dilakukan penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), sebanyak 22 kota mengalami inflasi dan hanya satu kota yang mengalami deflasi, yakni Pematang Siantar sebesar 0,09 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 0,83 persen, diikuti Tembilahan sebesar 0,81 persen.

Di Indonesia, 76 kota dari 82 Kota IHK mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi di Kota Ternate sebesar 1,29 persen. Kemudian diikuti Cilacap 1,07 persen, Singkawang dan Sampit masing-masing 1,03 persen.

Inflasi terendah di Kota Merauke dan Tual masing-masing sebesar 0,09 persen dan 0,06 persen, sedangkan kota yang mengalami deflasi tertinggi yakni Kota Maumere 0,72 persen, Singaraja 0,61 persen dan Jayapura 0,44 persen.(MT)