delikreportase.com

Copyright © delikreportase.com
All rights reserved
Desain by : Aditya

MEA 2015 Diharapkan Bisa Memberkan Kontirbusi Besar Bagi Pembangunan Riau

Pekanbaru - Riau diharuskan untuk bekerja keras dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC) yang akan ditetapkan oleh 2015. Pasalnya, masih banyak yang harus dibenahi agar MEA 2015 itu dapat member kontirbusi besar bagi pembangunan Riau. Apalagi Riau, yang berada pada posisi golden triangle, pertemuan antara Singapura, Indonesia dan Malaysia yang dihubungkan oleh  selat Melaka menjadi posisi stratergis dalam pengembangan usaha dan juga target bagi pencari kerja dari Negara ASEAN lainnya.

Khususnya di bidang perkebunan masih banyak  persoalan yang harus diselesaikan baik di tingkat pusat dan Daerah. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Drs H Zulher MS pada kegiatan Seminar Nasional yang ditaja oleh FKPT-PTI (Forum Koordinasi Perguruan Tinggi Teknolodi Pertanian Indonesia)  dengan tema peranan Perguruan Tinggi Dalam Meningkatkan Daya Saing Industri Perkebunan Yang Berkelanjutan Dalam Menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015 yang diadakan di Hotel Premiere Pekanbaru, Rabu (4/6). 

Beberapa persoalan yang harus diselesaikan adalah pertama, regulasi yang masih belum pro kerakyatan. Menurut beliau, masih banyak regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat yang belum menyentuh kepada kepentingan masyarakat  umum. Kedua, Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia masih kalah saing dari sumber daya dari beberapa Negara tetangga. 

"SDM masih kendala utama di Riau, dikhawatirkan jika MEA tersebut telah diberlakukan maka yang banyak bekerja pada posisi strategis yang dikuasai oleh tenaga kerja asing. Sedang naker lokal hanya bekerja pada posisi yang kurang penting," ujar Zulher.

Untuk itu, dia berharap,  Perguruan tinggi yang menghasilkan SDM diharapkan terus meningkatkan kompetensi dan kualitas lulusannya. Disamping itu dia juga menekankan kualitas dan produktifitas produk perkebunan di Riau, terutama CPO, masih belum bisa bersaing dari CPO Malaysia. Visi perkebunan yang menargetkan produksi sebesar 35 ton/hektar/tahun dan rendemen 26% masih jauh dari harapan.

"Hingga kini masih ada masyarakat yang menghasilkan buah kelapa sawit hanya 4,8 ton/hektar/tahun. Itu jadi tanggung kita bersama bagaimana caranya kualitas dan produkfitasnya bisa kita tingkatkan secepatnya.”tambaha Mantan Sekda Kampar ini.

Apakah ini berarti dunia perkebunan di Riau tidak siap menghadapi MEA 2015? Zulher berujar, siap tidak siap kita harus menghadapinya. 

"Perkebunan di Riau itu tinggal pembenahan beberapa aspek lagi. Tidak semuanya yang tidak bagus. Tapi memang, yang kurang bagus kurang masih ada. Untuk itu, semua pihak baik pemerintah kabupaten/kota, provinsi dan pusat harus bekerja keras agar pada saat MEA tersebut kita dapat berperan”terang Zulher. 

Senada dengan Zulher, perwakilan DIKTI, Megawati Santoso, juga menekankan kepada peserta seminar bahwa para akademis bidang pertanian di Indonesia harus memikirkan bagaimana caranya SDM yang dihasilkan oleh perguruan tinggi tersebut dapat bersaing dengan Naker Negara ASEAN lainnya. 

"Jangan sampai nanti SDM yang kita hasilkan tidak bisa berbuat apa-apa," ujar Megawati.(MT)